Kamis, 25 Oktober 2012

3 detik

... dan masih ada kamu mengisi ruang rasaku. Yah, kamu, tiga detik itu mampu memenuhi segalanya..
Membuatku bisa bernafas lega dalam sesak sejenak saja. Iya kamu, memang kamu mengubah hari kelabu menjadi biru, membahagiakan aku tanpa kamu tahu.
Kamu, mampu membuatku tersenyum saat mengingatmu atau saat kubaca kembali pesan darimu..
Kamu, bisa membuatka tersipu dengan kata rayumu. Aku tergoda, terpesona, dan terpanah tepat di ruang rasa lewat nalar yang tak terduga..

Bias

Kubiarkan cahaya itu merebutmu
Dan kubiarkan cahayaku meredup
Aku tak lagi menyinarimu dengan kilauan
rindu, biar saja padam
Karena kaupun t’lah silau dengan
kilat cahaya baru itu..

Pudar

                     
Kubiarkan malam menelan kelam
Lenyapkan dirimu dalam lekat khayal
Kubuarkan gelap menyamarkanmu
Perlahan membuatmu tak terbayang

Aku, meniti jalan kehilangan
hilang akan rasa, rindu, serta asa
Kamu, menata ruang bahagia
tanpa aku, dengan dia

Kini, tak hanya jarak antara aku dan kamu
Tapi, waktu memudarkan segalanya
Pun dia datang merebutmu
Mengambil kamu meski bukan milikku

Kubiarkan simfoni rindu tak lagi bertalu
Tak menggebu seperti dulu
Kini bukan lagi pada fase pilu ataupun kelu
tapi, aku dan rasa rindu t'lah berlalu;
mati saat kamu berikan rindu bukan padaku..

Rabu, 19 September 2012

... dan aku pun menyerah, tak mampu memaksa lebih jauh lagi pada kenyataan. Ku biarkan saja dirinya pergi melaju di jalan hidupnya tanpa diriku..
Radarnya memang tak pernah mampu menangkap sinyal-sinyal rindu yang kusebar di angkasa, tak juga dapat mendeteksi cintaku yang sekian lama kupendam sendiri.
Yah begitulah, biar saja dirinya seperti itu bersama cinta lain yang tiba-tiba mendahuluiku. Kini dirinya perlahan memudar tak lagi sesering dahulu dalam pikiran. Perlahan piramida rinduku terkikis, menyatu menjadi bagian debu di padang pasir dan aku menemukan dirinya kini bersandar di dunia lain-dunia yang sekejap menghancurkan peradaban hatiku..
Semakin menjauh dirinya dari lingkaran semesta hidupku, melayang menuju orbit ruang baru meninggalkanku, meski begitu dirinya tak pernah benar-benar menghilang, setidaknya untuk saat ini..

Rabu, 16 Mei 2012

Diorama Hujan Saat Senja

Sore ini semua kurasa
Saat senja ku nikmati gemercik air yang jatuh dari langit
Menyejukkan segala kepenatan
Ku dengar senandung hujan yang meneduhkan
Lalu aku terhanyut oleh lukisan indah di luar sana
Bunga-bunga rambutan teronggok bersama tetesan air yang jatuh dari dedaunan
Indah memang saat hujan
Anggrek, Mawar, Wijaya Kusuma, Kamboja, dan Bougenville warna-warni bagaikan pelangi di dasar bumi
Kesejukan ini membuatku kembali pada masa indah dulu
 Sejenak membuatku lupa akan segala kepahitan dan rasa sakit
Lalu aku masuk ke dalam dunia tak bernama, dan ku nikmati berada dalam dunia itu-mimpi...

dilema..

Ada rasa yang berbunga
saat aku memikirkannya
seolah aku bahagia
memiliki rasa untuknya
Pada sisi yang lain
ada paksaan harus melupakan
dan itu sangat menyakitkan
tak seperti awal harapan
Telanjur senyum itu menusuk
ke dalam hatiku yang masih remuk
Dia telah merasuk
dan kini harus membusuk
Seakan harus kulebur
menjadi bagian-bagian hancur
dan senyum itu harus ku kubur,
ku buang hingga terhempas ombak yang mendebur

Cerita Saat Hujan

satu. dua, tiga tetesan air langit
menghiasi mahkota hitam dan rautku
Lalu ribuan air itu membuat seluruhnya kuyup
membasahi luka yang tak kunjung mengering
menjadikannya ribuan rasa perih..
Kulihat daun-daun mengalir bersama deraian air
hingga bermuara di tempat tanpa dasar
Dan aku sejenak berpikir, ingin segala pilu di hatiku
ikut bersama aliran itu, masuk dalam tempat tanpa dasar hingga takkan kembali....