Hari ini,
Hening...
???????
Jumat, 28 Juni 2013
Sabtu, 01 Juni 2013
Entah
Hari ini, aku ingin berkeluh kesah..
Tapi pada siapa?
Entahlah, siapa pun..
Hari ini, rasanya...., aku tak suka hari ini
Hari ini menyebalkan....
Aku ingin bersembunyi
berlari dari rutinitas memuakan
Pergi menjauhi orang-orang munafik pencari muka
ah...., tadinya aku tak peduli tapi yang mereka lakukan menjatuhkan aku
Aku tak suka, ingin berteriak rasanya hingga mereka tahu isi hatiku
aaarrrgghhh....., belum cukup!!!
Tapi pada siapa?
Entahlah, siapa pun..
Hari ini, rasanya...., aku tak suka hari ini
Hari ini menyebalkan....
Aku ingin bersembunyi
berlari dari rutinitas memuakan
Pergi menjauhi orang-orang munafik pencari muka
ah...., tadinya aku tak peduli tapi yang mereka lakukan menjatuhkan aku
Aku tak suka, ingin berteriak rasanya hingga mereka tahu isi hatiku
aaarrrgghhh....., belum cukup!!!
Sabtu, 18 Mei 2013
Masih
Aku dan rasa sakit itu pernah menyatu, dulu.
Kini, perlahan kutinggalkan di tepi tempat tak bernama,
biar sakit itu merasakan perih, sendiri.
Dan aku masih menatap kabut yang menelanmu,
berharap kamu kembali dari balik kabut itu.
Berharap aku tak sendiri memiliki rasa,
berharap kamu mendengar isi hatiku
yang slama ini membisu.
Kini, perlahan kutinggalkan di tepi tempat tak bernama,
biar sakit itu merasakan perih, sendiri.
Dan aku masih menatap kabut yang menelanmu,
berharap kamu kembali dari balik kabut itu.
Berharap aku tak sendiri memiliki rasa,
berharap kamu mendengar isi hatiku
yang slama ini membisu.
Senin, 11 Februari 2013
Doa
19 Januari 2013
Hari itu aku berbisik doa pada Tuhan tentang sesuatu yang tidak baik tentang dia dan kekasihnya, dalam doa itu aku minta pada Tuhan berikan keadilan untukku. Aku minta mereka tidak bersama dan berharap suatu saat nanti aku akan tertawa diantara airmata mereka. Seiring dengan doa itu, kusisipkan permohonan ampun atas doaku. dan akhirnya,
11 Februari 2013
hari ini aku dengar kabar mereka putus, doaku terkabul. Pada akhirnya Tuhan memberiku keadilan, Tuhan mengabulkan doa tidak baikku. Sekarang aku bingung diantara senang atau berdosa. Dilema pada akhirnya, hari ini aku tak bisa tertawa hanya tersenyum puas karena dia dan mantannya telah berpisah. Terima kasih..
Hari itu aku berbisik doa pada Tuhan tentang sesuatu yang tidak baik tentang dia dan kekasihnya, dalam doa itu aku minta pada Tuhan berikan keadilan untukku. Aku minta mereka tidak bersama dan berharap suatu saat nanti aku akan tertawa diantara airmata mereka. Seiring dengan doa itu, kusisipkan permohonan ampun atas doaku. dan akhirnya,
11 Februari 2013
hari ini aku dengar kabar mereka putus, doaku terkabul. Pada akhirnya Tuhan memberiku keadilan, Tuhan mengabulkan doa tidak baikku. Sekarang aku bingung diantara senang atau berdosa. Dilema pada akhirnya, hari ini aku tak bisa tertawa hanya tersenyum puas karena dia dan mantannya telah berpisah. Terima kasih..
Kamis, 25 Oktober 2012
SEMANTIK
-->
Teks
Sastra Lisan Daerah: Sebuah Kajian Semantik
Silvi
Restu Suseno (2322110019)
Abstrak
Berbahasa adalah salah satu aktivitas sosial. Seperti
halnya aktivitas-aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud
bila manusia terlibat di dalamnya. Di dalam berbahasa, struktur berbahasa itu
penting. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, dalam dunia berkomunikasi
terdapat perubahan, pengurangan bahkan penambahan dalam berbahasa itu sudah menjadi
kebiasaan umum. Penelitian ini
dilandasi oleh pemikiran bahwa lirik lagu merupakan karya sastra yang
menggunakan bahasa sebagai media dan mencerminkan kehidupan masyarakat. Obyek
penelitian ini adalah teks sastra lisan daerah Serang yang dinyanyikan pada
saat menimang anak. Lirik lagu ini sangat terkenal di kalangan masyarakat
Serang dan sudah berumur cukup lama, lagu ini biasanya dinyanyikan pada saat
santai. Bahasa yang terdapat dalam lagu ini tentunya memiliki makna yang perlu
diungkap guna mendapat pemahaman terhadapnya. Pembahasan atau penelitian ini
berupa deskripsi dari hasil analisis terhadap teks sastra lisan atau lirik lagu
daerah Serang menggunakan pendekatan semantik.
Kata-kata kunci:
teks sastra lisan atau lirik lagu daerah Serang, semantik.
Pendahuluan
Bahasa sebagai
milik masyarakat tersimpan dalam diri setiap individu dapat bertingkah laku
dalam wujud bahasa dan tingkah laku bahasa individu ini dapat berpengaruh luas
pada anggota masyarakat yang lain. Manusia sehingga makhluk sosial dalam
berinteraksi tidak bisa lepas dari komunikasi antarmanusia yang satu dengan
yang lain, sebagai alat komunikasi, bahasa mampu mewakili pesan yang diterima
oleh penerima tutur tidak akan sempurna bila tidak ada respon dari orang lain.
Dengan memahami fikiran, perasaan dan gagasan orang lain.
Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu individu kepada individu lain, baik itu secara lisan maupun tulisan. Pernyataan tersebut sangat benar, satu orang pun tidak ada yang akan membantah dengan pernyataan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktifitas kita menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa lisan, bahasa tulisan maupun bahasa tubuh.
Bahasa merupakan media untuk menyampaikan pesan atau informasi dari satu individu kepada individu lain, baik itu secara lisan maupun tulisan. Pernyataan tersebut sangat benar, satu orang pun tidak ada yang akan membantah dengan pernyataan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari hampir semua aktifitas kita menggunakan bahasa, baik menggunakan bahasa lisan, bahasa tulisan maupun bahasa tubuh.
Sumarsono
(2007:13) mengemukakan masyarakat itu terdiri dari individu-individu, secara
keseluruhan individu saling memengaruhi dan saling bergantung, maka bahasa yang
sebagai milik masyarakat juga tersimpan dalam diri masing-masing individu.
Setiap individu dapat bertingkah laku dalam wujud bahasa, dan tingkah laku
bahasa individual dapat berpengaruh luas pada anggota masyarakat bahasa lain.
Oleh karena itu, individu tetap terikat pada aturan permainan yang berlaku bagi
semua anggota masyarakat. Bahasa berfungsi di tengah masyarakat dan berupaya
menjelaskan kemampuan manusia menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat
dalam situasi-situasi yang bervariasi. Manusia merupakan makhluk sosial,
melakukan interaksi, bekerja sama, dan menjalin kontak sosial di dalam
masyarakat. Dalam melakukan hal tersebut, manusia membutuhkan sebuah alat
komunikasi yang berupa bahasa.
Bahasa
merupakan faktor penting untuk menentukan lancar tidaknya suatu komunikasi.
Ketepatan berbahasa tidak hanya berupa ketepatan memilih kata, merangkai
kalimat dan juga ketepatan melihat situasi. Artinya seorang pemakai bahasa
selalu harus tahu bagaimana menggunakan kalimat yang baik, benar dan harus
melihat dalam situasi apa dia berbicara, kapan dia berbicara, dimana dia
berbicara, dengan siapa dia berbicara dan untuk tujuan apa dia berbicara.
Penelitian
terhadap suatu bahasa memilki ranah yang luas untuk memperoleh kejelasan dalam
penelitian ini maka perlu diketahui bahwa penelitian ini memilih salah satu sub
disiplin struktur bahasa, yaitu semantik. Dalam cabang ilmu bahasa semantik
merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makna yang berada di
luar gramatikal bahasa yang berbeda dengan morfologi dan sintaksis yang berada
pada tataran gramatika bahasa. Cakupan semantik sangat luas mencakup semua
tataran bahasa, baik kata, frase, klausa, kalimat, paragraf maupun wacana. Dengan
demikian, semantik adalah ilmu makna, membicarakan makna bahasa.
Semantik
adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna, baik itu makna leksikal
maupun makna gramatikal. Dijelaskan bahwa semantik sebagai ilmu yang
mempelajari tentang makna atau arti yang ada pada tatabahasa morfologi,
sintaksis maupun leksikon. Semantik dibagi dua antara lain, semantik gramatikal
dan semantik leksikal. Oleh karena itu makna gramatikal, makna fungsional,
makna struktural, atau makna internal. Makna yang muncul dikarenakan akibat
berfungsinya suatu kata dalam kalimat sedangkan makna leksikal yaitu, makna
suatu kata terdapat dalam kata yang berdiri sendiri.
Pateda (2010) berpendapat bahwa semantik merupakan disiplin linguistik yang membahas secara mendalam tentang sistem makna. Melalui objek makna semantik dapat dikaji melalui banyak segi penggunaan teori yang berbeda aliran dalam linguistik. Jadi dengan semantik kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan makna, bagaimanakah wujud makna, apakah jenis makna, apa saja yang berhubungan dengan makna, apakah komponen makna, apakah makna berubah, mengapa makna berubah, apakah setiap kata hanya memiliki satu makna atau lebih, bagaimanakah agar kita mudah memahami sebuah kata, semuanya dapat ditelusuri melalui disiplin ilmu yang disebut dengan semantik.
Pateda (2010) berpendapat bahwa semantik merupakan disiplin linguistik yang membahas secara mendalam tentang sistem makna. Melalui objek makna semantik dapat dikaji melalui banyak segi penggunaan teori yang berbeda aliran dalam linguistik. Jadi dengan semantik kita dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan makna, bagaimanakah wujud makna, apakah jenis makna, apa saja yang berhubungan dengan makna, apakah komponen makna, apakah makna berubah, mengapa makna berubah, apakah setiap kata hanya memiliki satu makna atau lebih, bagaimanakah agar kita mudah memahami sebuah kata, semuanya dapat ditelusuri melalui disiplin ilmu yang disebut dengan semantik.
Berkaitan
dengan objek dalam analisis ini perlu dijelaskan tentang lirik lagu yang berhubungan
dengan karya sastra. Bentuk karya sastra sangat beragam, karya sastra dapat
berbentuk tulisan seperti puisi, prosa, cerpen dan novel. Kaitannya dengan
bentuk, karya sastra juga berhubungan dengan karya seni kadang karya seni
menginspirasi karya sastra dan sebaliknya karya sastra melengkapi karya seni
seperti drama, lagu-lagu dan teater. Sastra dalam lirik dan drama sering
memakai musik. Sastra juga bisa dijadikan sebagai tema untuk seni lukis atau
seni musik terutama pada seni tarik suara dan seni musik.
Penelitian ini menggunakan objek teks sastra lisan atau lirik lagu daerah yang tidak diketahui judulnya. Lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik lagu adalah karya sastra utama dari puisi yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian. Oleh karena itu lirik sama dengan puisi namun disajikan dengan nyanyian yang diiringi oleh musik dan termasuk dalam genre sastra imajinatif.
Penelitian ini menggunakan objek teks sastra lisan atau lirik lagu daerah yang tidak diketahui judulnya. Lirik lagu termasuk dalam genre sastra karena lirik lagu adalah karya sastra utama dari puisi yang berisi curahan perasaan pribadi, susunan kata sebuah nyanyian. Oleh karena itu lirik sama dengan puisi namun disajikan dengan nyanyian yang diiringi oleh musik dan termasuk dalam genre sastra imajinatif.
Setiap
lagu pasti mempunyai tujuan tertentu yang ingin disampaikan kepada masyarakat
sebagai pendengarnya. Lirik lagu berisi barisan kata-kata yang dirangkai secara
baik dengan gaya bahasa yang menarik oleh komposer dan dibawakan dengan suara
merdu supaya dapat dinikmati oleh para pendengar dengan baik. Lirik lagu
terbentuk dari bahasa yang dihasilkan dari komunikasi antara pencipta lagu
dengan masyarakat penikmat lagu sebagai wacana tulis karena disampaikan dengan
media tulis pada sampul albumnya dapat juga sebagai wacana lisan melalui kaset.
Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang dari dalam batinnya tentang sesuatu hal
baik yang sudah dilihat, didengar maupun dialami.
Sastra merupakan unsur yang tidak dapat dihilangkan dalam
kehidupan kita. Lewat sastra kita bisa meluapkan perasaan kita, mengungkapkan
semua isi hati kita, mencurahkan segala pikiran dan rasa di hati baik sedang
sedih, senang, marah, emosi, dan perasaan lainnya. Lewat sastra juga kita bisa
menyalurkan ide, gagasan dan pikiran juga pengalaman-pengalaman hidup kita.
Bahkan, sastra juga dapat mempengaruhi sistem pemerintahan dan cara seorang
pemimpin untuk memimpin negeri dan rakyatnya.
Sastra selain dapat memberikan pelajaran atau pendidikan,
juga dapat berperan menjadi media dalam permainan anak contohnya lewat cerita
rakyat atau Folklor yang dalam bahasa Inggris disebut Folklore. Folklor terdiri dari tiga jenis yaitu (1) lisan, yang terdiri dari dongeng, tembang/ nyanyian, legenda, mite,
dan lain-lain, (2) setengah lisan,
terdiri dari tarian yang diiringi nyanyian, wayang golek, wayang kulit, dan
lain-lain, (3) bukan lisan, terdiri
dari tarian, gambar, ukiran, lukisan, dan lain-lain.
Sastra di nusantara banyak ragam dan bentuknya dan yang pasti sastra
itu indah baik dari bahasa, bentuk, dan makna yang terkandung di dalamnya tidak
samua sastra mengandung makna yang baik karena ada yang menjadikan sastra
sebagai media untuk berbuat kejahatan, contohnya seperti mantera meskipun tidak
semua mantera dibuat dengan maksud buruk atau jahat. Sastra yang ada di
Indonesia juga banyak, sama seperti daerah dan suku yang ada di Indonesia yang
banyak dan setiap daerah atau setiap suku pasti mempunyai sastra yang berbeda
dengan daerah atau suku lain, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa
sastra yang sama antara daerah/ suku yang satu dengan daerah/ suku yang lain.
Sastra yang
akan dikaji atau dibahas kali ini adalah sastra yang berupa teks dari daerah
Serang-Banten. Teks ini berupa teks lisan yang dinyanyikan atau ditembangkan,
biasanya dinyanyikan saat menimang bayi atau balita yang sedang bermain dan
bisa membuat bayi atau balita tersebut tertawa karena merasa geli. Teks ini
menggunakan bahasa Jawa, berikut teks/lirik lagu tersebut dengan terjemahannya:
Cip dodol, cip wajit
(mencicipi/ memcoba dodol, mencicipi wajit)
Cip gula lan kelepeu
(mencicipi gula dan kelapa)
Didokou ning padaringan
(disimpan di tempat beras)
Dirubung semut gateul
(dirubung semut gatal)
(kemudian bayi/ balita tersebut dikelitik-kelitik atau
dibuat merasa geli sehingga tertawa)
Teks diatas
merupakan teks yang digunakan untuk membuat bayi/ balita tertawa dan merasa
gembira, biasanya dilakukan saat sedang bersantai dan berkumpul. Teks ini sudah
digunakan secara turun-temurun dari jaman dahulu hingga sekarang khususnya di
daerah Serang, tetapi sudah jarang orang yang menyanyikan teks ini apalagi di
kota. Orang atau masyarakat yang masih menyanyikan lagu ini masih bisa ditemukan
di perkampungan di daerah Serang. Tapi mungkin, di kotapun masih bisa ditemukan
meski sudah jarang karena di kota anak-anak diperkenalkan dengan lagu-lagu
barat yang beraliran classic dan cerita-cerita modern.
Cara ini dapat membuat bayi/ balita menjadi riang, gembira, ceria, dan tidak
murung. Karena seorang anak yang masa kecilnya ceria akan tumbuh menjadi anak
yang mudah berinteraksi dengan dunia luar, tetapi sebaliknya, anak yang masa
kecilnya murung, tidak/ kurang ceria akan sulit berinteraksi.
Tetapi
kegunaan sastra tidak hanya sampai di sini, sastra juga dapat memberi gambaran
tentang cerita jaman dahulu seperti perjuangan, kepahlawanan, kesenian, cerita/
dongeng atau legenda Istana/ kayangan atau kerajaan-kerajaan, tentunya dengan
jenis sastra yang berbeda dan beragam pula. Jadi, lewat sastra kita dapat
menggali informasi dan menambah pengetahuan kita tentang sejarah, adat istiadat
daerah, kebiasaan masyarakat, kesenian, dan pengetahuan lain yang terkandung
dalam sastra itu sendiri, tentunya lewat bentuk sastra yang beragam. Selain itu
sastra yang ada di Nusantara ini seharusnya dilestarikan, dijaga dengan baik
agar tidak hilang karena jaman yang semakin maju dan modern. Selain itu ada
juga makna-makna yang terkandung dalam lirik lagu ini.
Makna Asosiatif dalam Teks/Lirik Lagu Daerah
Berdasarkan
data yang diperoleh, dapat dipaparkan penjelasan mengenai makna asosiatif dalam
lirik lagu ini. Berikut deskripsi hasil analisis makna asosiatif yang terdapat
dalam lirik lagu ini
Cip dodol, cip wajit
(mencicipi/ memcoba dodol, mencicipi wajit)
Cip gula lan kelepeu
(mencicipi gula dan kelapa)
Didokou ning padaringan
(disimpan di tempat beras)
Dirubung semut gateul
(dirubung semut gatal)
Berdasarkan data di atas dapat
ditentukan kata mencicipi pada baris pertama dan kedua memiliki makna menjilat
dan mengecap makanan untuk mengetahui rasanya. Kata mencicipi memiliki asosiasi
merasakan atau mengalami. Dapat ditarik simpulan bahwa kata mencicipi memiliki
kiasan yang mengarah pada sebuah atau sesuatu hal dirasakan dan dialami. Sebuah
atau sesuatu hal di sini maksudnya sesuatu yang bersifat menyenangkan, baik,
berguna yang diibaratkan dengan sesuatu yang manis seperti dodol, wajit, gula,
dan kelapa.
Pada
baris ketiga terdapat kata disimpan di tempat beras, maksud di sini bukan
menyimpan beras di tempat penyimpanan beras, tapi kita harus menyimpan atau
memiliki hal atau sifat yang baik pada diri kita. Contohnya sifat riang, sabar,
menyenangkan, baik hati, suka menolong. Pada baris keempat, dirubung semut
gatal maksudnya jika kita memiliki sifat-sifat yang baik seperti maksud pada
baris ketiga, maka kita akan disenangi oleh banyak orang dan memiliki banyak
teman. Berdasarkan data di atas dapat diketahui bahwa dalam lirik lagu ini
menggunakan makna kiasan dalam menyampaikan pesan atau amanat. Adapun makna
kias dalam lirik ini adalah kata mencicipi, dodol, wajit, gula, kelapa,
disimpan ditempat beras, dan dirubung semut.
Makna Stilistik dalam Lirik Lagu
Rangkaian
kata-kata dan kalimat dalam bait lirik lagu berbentuk majas perumpamaan. Berupa
cerita atau pesan untuk menjadi orang yang baik dan menyenangkan. Maksud dari
cerita yang disampaikan ringkas dan padat serta sarat makna stilistik.
Makna Afektif dalam Lirik Lagu
Makna afektif yang muncul akibat
reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa, setelah mendengar
lirik lagu ini dinyanyikan, maka akan dirasakan makna afektif di antaranya,
ajakan kepada pendengar untuk menjadi orang yang selalu bersikap baik, ramah,
ceria, dan menyenangkan agar disenangi banyak orang.
Makna Kolokatif dalam Lirik Lagu
Makna kolokatif terwujud dalam
kata-kata yang digunakan pengarang untuk menunjukkan sesuatu yang baik akan
disenangi orang. Lirik lagu ini berhubungan dengan kehidupan manusia secara
pribadi dan uviversal.
Makna Konotatif dalam Lirik Lagu
Makna konotatif berupa makna yang
digunakan untuk mengacu bentuk atau makna lain yang terdapat di luar makna
leksikalnya. Lirik lagu ini penuh dengan makna konotatif, hampir dalam setiap
barisnya merupakan acuan terhadap makna lain diluar makna leksikalnya, seperti
yang telah dijelaskan pada bagian awal mengenai makna asosiasi.
Penutup
Berdasarkan
analisis terhadap teks sastra lisan atau lirik lagu daerah Serang dengan
pendekatan semantik khususnya jenis semanti asosiatif, dapat disimpulkan bahwa
dalam lirik lagu ini terdapat makna kias, makna konotatif, makna kolokatif,
makna afektif. Makna kias terdapat dalam kata mencicipi, dodol, wajit, gula,
kelapa, disimpan ditempat beras, dan dirubung semut.
Makna stilistik berupa perumpamaan, sebuah cerita atau
pesan untuk berperilaku baik dan menyenangkan. Makna konotatif hampir terdapat
dalam setiap baris lirik lagu, kata-kata maupun kalimatnya yang menceritakan tentang
ajaran hidup sebagai pegangan dalam mencapai kebahagiaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer,
Abdul. 2002. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma,
Fatimah. 2009. Semantik 1 Makna Leksikal
dan Gramatikal. Bandung: PT
Refika Aditama.
Luxemburg, Jan van, Mike Bal, dan
Willem G. Weststeijn. 1991. Tentang
Sastra. Jakarta: Intermasa.
Subuki,
Makyun. 2011. Semantik Pengantar Memahami
Makna Bahasa. Jakarta:
Transpustaka.
Sumarsono. 2007. Pengantar Semantik. Yogjakarta: Pustaka
Pelajar.
BAHASA DUNIA KESEHATAN DI MASYARAKAT
A. Latar
Belakang
Bahasa merupakan alat atau media yang digunakan untuk
berkomunikasi. Dengan bahasa manusia dapat menyampaikan bermacam-macam pikiran
dan perasaan kepada orang lain. Dengan bahasa pula manusia dapat mewarisi dan
mewariskan semua pengalaman dan pengetahuannya. Bahasa memang memegang peranan
yang sangat penting di dalam kehidupan manusia. Manusia bisa berbahasa melalui
dua proses yaitu, proses pemerolehan dan proses pembelajaran.
Berbahasa adalah salah satu aktivitas sosial. Seperti
halnya aktivitas-aktivitas sosial yang lain, kegiatan berbahasa baru terwujud
bila manusia terlibat di dalamnya. Sosiolinguistik sebagai suatu disiplin ilmu
linguistik yang saat ini sudah mulai populer di sebagian masyarakat Indonesia,
meskipun hanya secara umum tentang sosiolinguistik itu sendiri.
Sosiolinguistik adalah cabang linguistik yang mengkaji
hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya. Ilmu ini merupakan kajian
kontekstual terhadap ragam penggunaan bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi
yang alami. Ragam dalam kajian ini merupakan masalah pokok yang dipengaruhi
atau memengaruhi perbedaan aspek sosiokultural dalam masyarakat. Ragam bahasa
disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat
atau kelompok yang sangat beragam dan disebabkan oleh para penuturnya yang
tidak homogen. Menurut Halliday, ragam bahasa dapat dibedakan berdasarkan
pemakai (dialek) dan pemakaian (register).
Makalah ini akan mencoba untuk memaparkan tentang
register. Register adalah pemakaian bahasa yang dihubungkan dengan pekerjaan
seseorang (Mansoer Pateda, 1987:64). Menurut Abdul Chaer, ragam bahasa dialek
fungsional berdasarkan bidang pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu
digunakan untuk keperluan atau bidang apa. Misalnya bidang yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah bahasa dunia kesehatan.
B.
Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini, adalah:
1.
Apa
pengertian register?
2.
Apa
saja jenis ragam bahasa register?
3.
Apa
pengertian register: bahasa kesehatan?
4.
Bagaimana
bahasa dunia kesehatan di masyarakat?
C.
Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini,
adalah:
1.
Mengetahui
pengertian register.
2.
Mengetahui
jenis ragam bahasa register.
3.
Mengetahui
pengertian register: bahasa kesehatan.
4.
Mengetahui
bahasa dunia kesehatan di masyarakat.
A.
Pengertian Register
Sosiolinguistik
adalah cabang linguistik yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat
penuturnya. Ilmu ini merupakan kajian kontekstual terhadap ragam penggunaan
bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi yang alami. Ragam dalam kajian ini
merupakan masalah pokok yang dipengaruhi atau memengaruhi perbedaan aspek
sosiokultural dalam masyarakat. Ragam bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan
interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat
beragam dan disebabkan oleh para penuturnya yang tidak homogen.
Dalam hal ragam bahasa ini ada dua pandangan.
Pertama, ragam itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur
bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi, ragam bahasa itu terjadi
sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua,
ragam bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi
dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja
diterima ataupun ditolak. Yang jelas, ragam bahasa itu dapat diklasifikasikan
berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan di dalam masyarakat
sosial. Namun, Halliday membedakan ragam bahasa berdasarkan pemakai (dialek)
dan pemakaian (register).
Menurut
Nababan (1984), ragam bahasa yang berkenaan dengan pengunaannya, pemakaiannya,
atau fungsinya disebut fungsiolek. Sedangkan menurut Abdul Chaer, ragam bahasa
tersebut disebut register. Register adalah pemakaian bahasa yang dihubungkan dengan
pekerjaan seseorang (Mansoer Pateda, 1987:64).
Menurut
Abdul Chaer, ragam bahasa dialek fungsional berdasarkan bidang pemakaian ini
adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa.
Misalnya, bidang sastra jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran,
perekonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan. Ragam bahasa
berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling tampak cirinya adalah dalam bidang
kosakata. Setiap bidang kegiatan ini biasanya mempunyai sejumlah kosakata khusus
atau tertentu yang tidak digunakan dalam bidang lain.
B. Jenis-Jenis
Ragam Bahasa Register
Register adalah pemakaian bahasa yang dihubungkan dengan
bidang pekerjaan. Misalnya dalam bidang sastra jurnalistik, militer, pertanian,
kesehatan, pelayaran, perekonomian, perdagangan, pendidikan, kegiatan keilmuan
dan bidang pekerjaan lainnya.
·
Pada
ragam bahasa jurnalistik mempunyai ciri tertentu, yakni bersifat sederhana,
komunikasi, dan ringkas. Sederhana karena harus dipahami dengan mudah;
komunikasi karena jurnalistik harus menyampaikan berita secara tepat, dan
ringkas karena keterbatasan ruang (dalam media cetak), dan keterbatasan waktu
(dalam media elektronika). Dalam bahasa Indonesia ragam jurnalistik ini dikenal
dengan sering ditanggalkannya awalan me- atau awalan ber- yang di dalam ragam
bahasa baku harus digunakan. Umpamanya kalimat, “gubernur tinjau daerah banjir”: (dalam bahasa baku berbunyi, “gubernur meninjau daerah banjir”).
Contoh:
-
Areal yang selama ini semraut dan tidak sedap
dipandang mata ini akan dijadikan kawasan yang memadukan antara sarana
transportasi unggulan dan sentra perniagaan.
-
Lima perampok gagal bobol ATM.
-
Baru dua jam kerja, PRT larikan bayi.
-
Panwaslu dan KPU DKI beda pendapat.
·
Pada
ragam bahasa militer dikenal dengan cirinya yang ringkas dan bersifat tegas,
sesuai dengan tugas dan kehidupan kemiliteran yang penuh dengan disiplin dan
instruksi. Ragam militer di Indonesia dikenal dengan cirinya yang memerlukan
keringkasan dan ketegasan yang dipenuhi dengan berbagai singkatan dan akronim. Bagi
orang di luar kalangan militer, singkatan dan akronim itu memang seringkali
sukar dipahami, tetapi bagi kalangan militer itu sendiri tidak menjadi
persoalan.
Contoh akronim:
-
Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
-
Brimob (Brigade Mobil)
-
Kodam (Komando Daerah Militer
-
Letkol (Letnan Kolonel
-
Lettu (Letnan Satu)
-
Lettda (Letnan Dua)
Contoh kalimat:
-
Seraaaaang!!!
-
Siap Komandan!!!
-
Hormat senjata!!!
·
Sedangkan
ragam bahasa ilmiah yang juga dikenal dengan cirinya yang lugas, jelas, dan bebas dari keambibiguan, serta
segala macam metafora dan idiom. Bebas dari segala keambiguan karena bahasa
ilmiah harus memberikan informasi keilmuan secara jelas, tanpa keraguan akan
makna, dan terbebas dari kemungkinan tafsiran makna yang berbeda. Oleh karena
itulah, bahasa ilmiah tidak menggunakan segala macam metafora dan idiom.
Contoh:
-
Sosiolinguistik adalah cabang linguistik
yang mengkaji hubungan antara bahasa dan masyarakat penuturnya.
-
Kalimat efisien adalah kalimat yang padat isi, bukan
padat kata. Artinya, kalimat itu hanya menggunakan kata dalam jumlah sedikit
tetapi dapat menyampaikan informasi secara tepat dan jelas.
C. Register:
Bahasa Kesehatan
Bahasa kesehatan sebagian besar berasal dari bahasa
asing, kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia meski tidak seluruhnya
karena penerjemahan bahasa itu tidak mudah. Istilah-istilah dunia kesehatan
sebagian besar berasal dari bahasa Yunani purba dan bahasa Latin; sebagian
kecil dari bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris. Istilah yang berasal dari
bahasa Belanda pun ada juga beberapa, dari bahasa kita sendiri (bahasa
Indonesia) pun ternyata sudah ada.
Bahasa kesehatan dalam kenyataannya tidak terlalu banyak
digunakan oleh masyarakat karena sifat bahasa kesehatan adalah keilmuan,
sehingga tidak lazim digunakan dalam keseharian masyarakat. Walaupun ada yang
menggunakan bahasa tersebut tetapi bahasa kesehatan yang digunakan masih bahasa
yang sederhana dan tidak banyak. Misalnya bahasa atau istilah kesehatan yang
banyak digunakan masyarakat adalah diabetes,
hipertensi, obesitas, leukemia, anemia, phobia, dan masih banyak lagi.
Contoh:
-
Untuk meredakan nyeri dan demam: pilihlah obat
yang mengandung asetaminofen ditambah dengan aspirin.
-
Estrogen mampu mencegah kanker usus
besar.
-
Vitamin D dapat meningkatkan produksi molekul
cathelicidin, yang mampu membunuh bakteri penyebab tuberculosis (TB).
-
Allicin yang terkandung pada setiap butir bawang putih dapat
mencegah perluasan kanker pada dinding perut.
Analisis Masalah
Dalam
tiap-tiap ilmu pengetahuan banyak sekali dipergunakan orang kata-kata yang
mempunyai arti yang khas dalam ilmu pengetahuan itu dan kebanyakan istilah itu
berasal dari bahasa asing. Di antara berbagai ilmu pengetahuan, ilmu kesehatan
yang lebih banyak memakai istilah yang berasal dari bahasa asing itu.
Bukan ahli-ahli kesehatan saja yang
harus mahir mempergunakannya, tapi masyarakat juga perlu mengetahui
istilah-istilah dunia kesehatan. Istilah-istilah dunia kesehatan sebagian besar
berasal dari bahasa Yunani purba dan bahasa Latin; sebagian kecil dari bahasa
Jerman, Prancis, dan Inggris. Istilah yang berasal dari bahasa Belanda pun ada
juga beberapa, dari bahasa kita sendiri (bahasa Indonesia) pun ternyata sudah
ada.
Perlunya bahasa kesehatan dapat
dimengerti oleh masyarakat, agar masyarakat itu mengerti istilah-istilah yang
dikatakan oleh dokter seperti nama penyakit, pengobatan/terapi, obat-obatan
atau istilah-istilah lainnya. Dengan mengetahui istilah-istilah kesehatan,
meskipun hanya sedikit tetapi itu sudah cukup membantu masyarakat untuk
memgambil langkah yang cepat dan tepat.
Memang ada beberapa istilah-istilah
kesehatan yang menggunakan bahasa Indonesia dan ada juga istilah-istilah
kesehatan yang menggunakan bahasa asing yang sudah tidak asing dan sudah diketahui
masyarakat, tetapi tidak semua orang mengetahui arti dari istilah tersebut.
Misalnya, tidak semua orang mengetahui apa itu “acetaminophen”, tetapi kebanyakan orang lebih mengenal obat pereda
nyeri dan demam itu dengan nama “paracetamol”.
Ada juga penyakit hemoroid yang lebih
dikenal dengan wasir/ambeien.
Ada juga istilah yang sudah banyak
diketahui oleh masyarakat, tapi masyarakat tidak mengetahui kandungan dan
efeknya salah satu contohnya adalah zat yang terkandung dalam bumbu penyedap
makanan yang sering digunakan untuk memasak atau yang terkandung dalam makanan
ringan yang dijual di warung atau supermarket, zat tersebut sering disebut MSG
(monosodium glutamat). Penggunaan MSG
dalam makanan memang akan memberikan rasa yang enak, tetapi penggunaan MSG yang
berlebihan akan menimbulkan penyakit seperti penyakit amandel. Ada juga zat
yang terkandung dalam produk pembersih rumah tangga (pembersih lantai, kaca)
yang berbahaya dan akan memicu asma, yaitu
monoethanolamine atau yang lebih
dikenal dengan aerosol. Cacar air, penyakit ini memang sudah
tidak asing lagi di masyarakat dan semua orang pasti tahu penyakit ini. Tetapi,
tidak semua mengetahui bahwa cacar air dapat menyebabkan penyakit lain. Cacar
air pada anak kecil dapat menyebabkan penyakit herpes yang disebabkan virus
varicella. Sedangkan, cacar air pada orang dewasa dapat menyebabkan
penyakit hepatitis, pneumonia, dan gagal jantung.
Dewasa ini banyak juga istilah yang
sudah tidak asing lagi di masyarakat bahkan menjadi sebuah tren misalnya phoby/fobia, shopaholic, hipersomnia,
detoksifikasi (detoks) dan masih banyak lagi. Phoby/fobia adalah rasa
takut abnormal pada berbagai keadaan dan benda. Shopaholic adalah suatu penyakit mental atau kejiwaan tentang
pemuasan hati dengan berbelanja (shopping).
Sedangkan, hipersomnia adalah
penyakit terlalu banyak tidur. Detoksifikasi (detoks) adalah proses
mengeluarkan toksin yang ada di dalam tubuh.
Tetapi banyak istilah kesehatan yang
masih belum diketahui atau masih terdengar awam di telinga masyarakat, misalnya
penyakit emphysema/emfisema paru,
aneurisma, ensefalitis, meningitis, dan palpasi. Emfisema paru adalah pelebaran dan pecahnya gelembung-gelembung
paru secara abnormal. Aneurisma
adalah kalainan dari pembuluh darah yang pada bagian tertentu mengalami
penggelembungan (pelebaran ddan penipisan dinding pembuluh darah). Ensefalitis adalah peradangan akut di
otak langsung, yang disebabkan oleh virus, bakteri atau komplikasi dari
penyakit lain seperti rabies dan sifilis. Meningitis adalah radang membrane pelindung (selaput) sistem saraf
pusat, penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme,
luka fisik, kanker, atau obat-obatan
tertentu. Sedangkan, palpasi adalah
cara pemeriksaan yang dilakukan dengan meraba.
Pentingnya
mengetahui tentang istilah-istilah kesehatan seperti nama penyakit,
obat-obatan, zat-zat, penyebab penyakit dan lain-lainnya, agar masyarakat dapat
mengambil tindakan yang tepat sebelum ditangani oleh dokter. Jadi,
istilah-istilah kesehatan juga harus dipahami masyarakat, bukan hanya
orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan saja. Agar masyarakat dapat
mengetahui istilah-istilah kesehatan, masyarakat dapat bertanya pada
orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan seperti dokter dan perawat, tetapi
tidak perlu memiliki kamus kesehatan/kedokteran karena harganya cukup mahal,
cukup membaca buku dan majalah kesehatan, serta rajinlah menanyakan pada orang
yang ahlinya.
Simpulan
Dalam
tiap-tiap ilmu pengetahuan banyak sekali dipergunakan orang kata-kata yang
mempunyai arti yang khas dalam ilmu pengetahuan itu dan kebanyakan istilah itu
berasal dari bahasa asing. Di antara berbagai ilmu pengetahuan, ilmu kesehatan
yang lebih banyak memakai istilah yang berasal dari bahasa asing itu.
Bukan ahli-ahli kesehatan saja yang
harus mahir mempergunakannya, tapi masyarakat juga perlu mengetahui
istilah-istilah dunia kesehatan. Istilah-istilah dunia kesehatan sebagian besar
berasal dari bahasa Yunani purba dan bahasa Latin; sebagian kecil dari bahasa
Jerman, Prancis, dan Inggris. Istilah yang berasal dari bahasa Belanda pun ada
juga beberapa, dari bahasa kita sendiri (bahasa Indonesia) pun ternyata sudah
ada.
Memang ada beberapa istilah-istilah
kesehatan yang menggunakan bahasa Indonesia dan ada juga istilah-istilah
kesehatan yang menggunakan bahasa asing yang sudah tidak asing dan sudah
diketahui masyarakat, tetapi tidak semua orang mengetahui arti dari istilah
tersebut. Misalnya, tidak semua orang mengetahui apa itu “acetaminophen”, tetapi kebanyakan orang lebih mengenal obat pereda
nyeri dan demam itu dengan nama “paracetamol”.
Ada juga penyakit hemoroid yang lebih
dikenal dengan wasir/ambeien.
Ada juga istilah yang sudah banyak
diketahui oleh masyarakat, tapi masyarakat tidak mengetahui kandungan dan
efeknya salah satu contohnya adalah zat yang terkandung dalam bumbu penyedap
makanan yang sering digunakan untuk memasak atau yang terkandung dalam makanan
ringan yang dijual di warung atau supermarket, zat tersebut sering disebut MSG
(monosodium glutamat). Ada juga zat
yang terkandung dalam produk pembersih rumah tangga (pembersih lantai, kaca)
yang berbahaya dan akan memicu asma, yaitu
monoethanolamine atau yang lebih
dikenal dengan aerosol.
Dewasa ini banyak juga istilah yang
sudah tidak asing lagi di masyarakat bahkan menjadi sebuah tren misalnya phoby/fobia, shopaholic, hipersomnia,
detoksifikasi (detoks) dan masih banyak lagi. Tetapi banyak istilah kesehatan yang masih belum diketahui atau
masih terdengar awam di telinga masyarakat, misalnya penyakit emphysema/emfisema paru, aneurisma,
ensefalitis, meningitis, dan palpasi.
Pentingnya mengetahui tentang
istilah-istilah kesehatan seperti nama penyakit, obat-obatan, zat-zat, penyebab
penyakit dan lain-lainnya, agar masyarakat dapat mengambil tindakan yang tepat
sebelum ditangani oleh dokter. Jadi, istilah-istilah kesehatan juga harus
dipahami masyarakat, bukan hanya orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan
saja. Agar masyarakat dapat mengetahui istilah-istilah kesehatan, masyarakat
dapat bertanya pada orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan seperti dokter
dan perawat, tetapi tidak perlu memiliki kamus kesehatan/kedokteran karena
harganya cukup mahal, cukup membaca buku dan majalah kesehatan, serta rajinlah
menanyakan pada orang yang ahlinya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: Rineka Cipta.
Hudson, R.A. 1988. Sosiolinguistik. Bandung: Yayasan Amal
Keluarga.
Majalah Kesehatan Keluarga Dokter Kita. Edisi 3-Thn
IV-Maret 2009.
Nababan, P.W.J.
1984. Sosiluingistik Suatu Penghantar.
Jakarta: Gramedia.
Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.
Prevention Indonesia. Edisi Agustus 2008.
. Edisi September 2008.
. Edisi November 2008.
Ramali,
Ahmad, dkk. 2005. Kamus Kedokteran. Jakarta: Imagraph.
Langganan:
Postingan (Atom)